Kamis, Juli 28, 2011

Dolalak

Dolalak atau sering juga disebut angguk adalah kesenian khas dari Kabupaten Purworejo. Tarian ini merupakan peninggalan pada zaman penjajahan Belanda. Tari dolalak tercipta karena terinspirasi oleh
perilaku serdadu Belanda pada saat beristirahat di camp-camp.
Serdadu- serdadu tersebut beristirahat sambil minum-minuman keras, ada juga yang menyanyi dan berdansa ria. Aktifitas sehari-hari para serdadu di kamp ditiru oleh para pengikutnya yang kebanyakan pribumi.
Asal kata Dolalak adalah dari not Do dan La karena tarian ini diiringi hanya dengan alat musik dua nada, tentunya pada zaman dulu awal mula Dolalak. Dan dari pendengaran
penduduk pribumi yang berubah menjadi lidah jawa dolalak, sekitar tahun 1940.
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan musik modern, yaitu keyboard yang dulunya Irinngan dan Instrumen yang digunakan adalah kendang, rebana dan bedug. Syair- syairnya tentang keagamaan, pendidikan dan juga berbagai kritik dan sindiran. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.
Penari Dolalak pada mulanya dilakukan oleh para lelaki, berseragam hitam dan bercelana pendek. Seragam ini menirukan seragam tentara belanda pada zaman dahulu. Seiring waktu, muncullah generasi-generasi penari putri dengan disertai modifikasi-modifikasi seragam. Dan sekarang, keberadaan penari putra amat jarang (bahkan boleh dikatakan tidak ada) dan tergantikan oleh para penari putri. Salah satu grup penari yang masih memiliki penari putra adalah grup tari Dolalak dari Kaligesing. Penari-penari Dolalak bisa mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan musik.
Tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu. Tarian Dolalak saat ini sudah berkembang pesat bahkan sudah menjadi brand image Kabupaten Purworejo.
Dolalak semakin populer di kalangan generasi muda. Hal ini tidak luput dari peran Pemerintah Daerah Purworejo yang terus mengembangkan dan melestarikan kesenian asli daerah Purworejo ini. Bahkan di setiap event-event tingkat nasional kesenian Dolalak selalu tampil sebagai suatu kesenian yang unik. Di setiap lomba-lomba kesenian tingkat nasional kesenian Dolalak selalu menjuarai.
Hal inilah yang mendorong Dolalak tetap lestari. Kesenian Dolalak selalu ditampilkan dalam Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Jambore Pramuka dari tingkat daerah sampai Nasional, pertunjukkan budaya antar daerah, bahkan sudah melanglang ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Oleh karena itu Dolalak perlu dipatenkan sebagai kesenian asli Indonesia pada umumnya dan menjadi kesenian asli daerah Kabupaten Purworejo pada khususnya. Hal ini bertujuan agar Dolalak tidak diklaim sebagai milik perseorangan, daerah, atau bahkan bangsa lain.
Tari ini oleh rakyat Indonesia diciptakan sebagai misi keagamaan dan politik untuk
memerangi Belanda.
Tari dolalak mempunyai berbagai ragam sesuai dengan daerah asalnya misalnya; gaya Kaligesingan, Mlaranan, Sejiwanan, dan Banyuuripan.
Gerak tari dolalak merupakan gerak keprajuritan didominasi oleh gerak yang rampak dan dinamis nyaris seperti gerakan bela diri pencak silat yang diperhalus.
Gerakan ³kirig´ (gerakan bahu yang cepat pada saat-saat tertentu)
merupakan ciri khas dolalak yang tidak didapati pada tarian lain. Dalam tari terdapat berbagai macam istilah diantaranya:
a. Gerak kaki seperti adeg, tanjak, hoyog, sered, mancat, gejug, jinjit, ngentrik,ngetol, engklel, sing, ngetol, pencik, kesutan, sampok, jengkeng dan sepak.
b. Gerak tangan seperti ngruji, taweng, ngregem, malangkerik, ukel, ukel wolak-walik, tepis, jentus, keplok, enthang, siak, kesutan grodha, miwir sampur, ngithir sampur, bapangan wolak-walik, atur-atur, cathok, mbandhul, cakilan, dan tangkisan.
c. Gerak tubuh/ badan seperti ogek, entrag dan geblag.
d. Gerak leher seperti tolehan, lilingan, dan coklekan.
e. Gerak bahu seperti kirig, dan kedher.

Tari ini dipentaskan pada saat-saat tertentu, diantaranya, mantu,sunatan dan syukuran. Biasanya warga mengundang group tertentu yang disebut nanggap dalam bahasa jawa, tari ini ditarikan menjelang hajatan yaitu pada malam hari semalam suntuk .
Dalam perkembangan selanjutnya kabupaten Purworejo memperhatikan perkembangannya kemudian mengangkat kesenian ini lewat penataran dan seminar tentang tari dolalak .
Bahkan dolalak dijadikan muatan lokaldalam pendidikan dasar .
Perhatian pemerintah juga tampak dengan memberikan alat dan kostum.
Sehingga kini dolalak sudah terkenal sampai di TMII yang pernah pentas di anjungan Jawa Tengah.
Seiring berjalannya waktu kemudian dolalak menjadi aset mata pencaharian tambahan bagi penari dan pengiring group tersebut.
Sebab pada musim pernikahan banyak menampilkan tari dolalak untuk meramaikannya.
Memilik beberapa unsur, diantaranya :
a. Gerak
Dansa (tari gaul gaya barat ) dengan iringan lagu membangkitkan inspirasi beberapa warga pribumi untuk menirunya menjadi tari dolalak. Penelitian Prihartini membagi tari dolalak menjadi tiga bagian yaitu: tari kelompok, tari pasangan, dan tari tunggal. Tari tunggal biasanya diikuti dengan ³trance´ atau kesurupan sehingga penari bisa menari hingga berjam-jam.
b. Busana
Kostum tradisional dolalak menggunakan baju lengan panjang hitam dan celana pendek hitam dengan pelisir ³untu walang´ pada tepinya. Serta aksesorius kuning keemasan pada bagian dada dan punggung ditambah topi pet hitam dengan hiasan dan kaos kaki panjang, namun saat ini dimodivikasi pada celana pendek yang dahulu diatas lutut menjadi di bawah lutut. Bahkanada juga yang dimodivikasi dengan gaya muslim dengan berkerudung namun aksesorisnya tetap sama. Memakai sampur pendek yang diikat di sebelahkanan saja.
c. Musik .
Semula hanya acapela, namun dalam perkembangannya diiringi dengan lagu dan tembang seerta iringan solawat jawa dan dilengkapi juga dengan bedug, kendang, terbang, kecer dan organ. Musiknya beragam dari vocal ³bawa´ sebagai lagu pembuka hingga lagu parikan atau pantun yang menggunakan bahasa melayu lama dan sebagian bahasa jawa bahkan bahasa arab. Bahkan sekarang masuk juga lagu jenis pop, dangdut dan campursari.
d. Syair lagu.
Syair lagu bertema tentang agama sindiran sosial, kegembiraan dan nasehat kehidupan ada juga yang bernuansa romantis yang dinyatakan dengan pantun atau parikan.

Tidak ada komentar:

Pengikut

 

KLIK PURWOREJO. Copyright 2008 All Rights Reserved guombloch